Kamis, 03 Mei 2012

13 Things You Didn�t Know About The Titanic


For the 100th anniversary of the Titanic sinking, we bring you surprising bits of trivia and Titanic facts you've never heard.
1. A full moon may have caused the fatal iceberg to cross paths with the ship
Scientists recently arrived at a new theory that the full moon months before could be to blame for the collision, which killed about 1,500 people.
Quoting astronomer Donald Olson of Texas State University-San Marcos, National Geographic's Richard A. Lovett wrote, "That full moon, on January 4, 1912, may have created unusually strong tides that sent a flotilla of icebergs southward�just in time for Titanic's maiden voyage."
This wasn't a normal full moon, though: "It was the closest lunar approach, in fact, since A.D. 796, and Earth won't see its like again until 2257," wrote Lovett.
2. Nearly five Titanics could be built with the money James Cameron's Titanic movie has made worldwide
According to the California ScienCenter, the Titanic would cost about $400 million to build today. James Cameron's Academy Award-winning film Titanic has earned over $1.84 billion worldwide since its release in 1997�enough to construct about 4.6 complete replicas of the ship. That's not counting money earned from the 3D re-release of the film in spring 2012.
3. New research says an optical illusion prevented the ship from receiving help
British historian Tim Maltin believes that the atmosphere on the night of the sinking created conditions that made it difficult for the crew to spot icebergs�and for other ships to spot the Titanic.
Smithsonian magazine reported, "Atmospheric conditions in the area that night were ripe for super refraction, Maltin found. This extraordinary bending of light causes miraging, which, he discovered, was recorded by several ships in the area. He says it also prevented the Titanic�s lookouts from seeing the iceberg in time and the freighter Californian from identifying the ocean liner and communicating with it."
4. Researchers completed a map of the wreck site in 2012, using over 100,000 photos taken by underwater robots
The Associated Press reported in early March that a team of researchers completed "what's believed to be the first comprehensive map of the entire 3-by-5-mile Titanic debris field," a milestone that could lead to more insights as to what happened when the ship sank on April 15, 1912.
"An expedition team used sonar imaging and more than 100,000 photos taken from underwater robots to create the map, which shows where hundreds of objects and pieces of the presumed-unsinkable vessel landed," wrote AP reporter Clarke Canfield.
Though the site wasn't fully mapped until now, the Titanic's wreckage was first discovered in September 1985 by underwater explorer Robert Ballard.
5. $95,000: The expected auction price for the Titanic's final lunch menu
The Telegraph reports that the actual menu will likely fetch big bucks when it hits the auction block. Millionaire Titanic passenger Benjamin Guggenheim (left), may well have eaten the meal, which included grilled mutton chops and smoked sardines.
6. More than 5,000 other artifacts will also be up for grabs
Collectors with deep pockets will be able to bid on everything from silverware to pieces of the actual boat, reports CNN. The collection of items had been priced at $189 million previously.
7. Did an 1898 novella anticipate the Titanic disaster?
The plot of Morgan Robertson's Futility bears an uncanny resemblance to the events surrounding the sinking of the Titanic, published 14 years before the voyage.
The book tells the story of the Titan: "The largest ship ever built, billed as 'unsinkable' by its British owners and the press, strikes an iceberg one April and goes down. Due to a lack of lifeboats, more than half the passengers perish in the North Atlantic," wrote The Portland Press Herald of the book's plot. Sound familiar?
Futility has since been renamed The Wreck of the Titan, and it's available for free on Google Books.
8. There's an app for that
Those looking for more of a 21st century experience will find tons of information in The History Press' "Titanic: Her Story" iPad app. It includes a photo slideshow, sinking timeline, and more. Other new-tech ways to follow the voyage: live tweets of the voyage in real time on Twitter from The History Press @TitanicRealTime:
#firstclass I hope we have sufficient heating in our quarters, it is sure to be cold as we travel across the icy Atlantic waters.
� TitanicVoyage (@TitanicRealTime) March 19, 2012
9. You can take a cruise that echoes the Titanic experience
Leaving exactly 100 years after the Titanic began its ill-fated voyage, a memorial cruise will make its way to Halifax, where many Titanic victims were laid to rest, and later arrive at the spot in the Atlantic where the ship sank for a day of reflection. No guarantee on spotting an iceberg.
10. $2 million: How much it will cost to preserve the historic Belfast dock where the Titanic was built
According to BBC News, over $2 million has been set aside for work on the Thompson Graving dock in "the largest single investment ever made by the Department of the Environment in support of an historic monument." A new building will be constructed to safeguard the area against flooding.
11. It's still one of the biggest local attractions and shows no sign of stopping: �Tragedy plus time equals tourism�
That's what one Titanic expert and guide told the Associated Press, and the theory's now being put to the test as a new exhibit about the ship opens in Belfast.
12. Even today, major ships still get "iced" by ocean bergs
Ships continue to struggle with icebergs to this day. "Only last year, an iceberg tore a hole in the hull of a Russian fishing boat cruising around the Antarctic. The 32-person crew threw cargo overboard to lighten the ship while waiting nearly two weeks for rescue," wrote Lauren Everitt for BBC News Magazine.
13. Its appeal keeps growing, even 100 years after the tragedy
As John Williams of The New York Times' Arts Beat explains, a smorgasbord of Titanic texts were released for the 100th anniversary of the ship's sinking. That includes The Titanic for Dummies.

Rabu, 02 Mei 2012

Jejaring Sosial Buatan Indonesia Untuk Pelajar


Namanya, Studentbook. Secara singkat, boleh dibilang inilah 'Facebook' untuk para pelajar. Yang menarik, situs jejaring sosial ini tidak hanya melayani para pelajar, tetapi juga menghubungkan orangtua murid dan gurunya sekaligus.

Asyiknya lagi, sistem Studentbook ini dilengkapi dengan SMS notifikasi perkembangan akademik siswa kepada orang tua masing-masing yang dikirim setiap hari melalui telepon selular mereka. Keuntungan dari SMS notifikasi ini adalah orang tua bisa memantau secara penuh perkembangan akademik anaknya di sekolah.

Melalui SMS notifikasi ini orang tua selalu mendapatkan up-date harian tentang absensi siswa (setiap jam pelajaran), tugas-tugas (PR) yang diberikan, materi-materi yang sudah diajarkan, pelajaran yang perlu disiapkan, saran dari guru, dan pengumuman-pengumuman resmi dari sekolah.

��Dengan demikian, orang tua memiliki kontrol penuh atas perkembangan akademik anaknya di sekolah. Melalui studentbook, kami berusaha menjembatani internet sehat bagi para siswa,�� ujar Asykuri ibn Chamim, salah satu penggagas Studentbook.

Untuk orangtua, selain komunikasi, lewat situs ini juga bisa mengontrol nilai dan pekerjaan rumah anak. Ini karena tersedia menu berupa surat ke siswa, surat ke guru, cek nilai siswa dan cek tugas siswa.

Bagi sang guru, situs ini menyediakan akses untuk memberikan PR, memberi nilai, komunikasi efektif dengan siswa, orangtua siswa, dan antara guru yang bisa berasal dari satu sekolah atau bahkan sekolah lain.

Sedangkan untuk si pelajar sendiri, Studentbook berguna untuk melihat dan mengirimkan PR, mendapatkan nilai dari guru, bergaul sesama siswa, diskusi kelompok, sampai berdiskusi dengan orangtua. Dengan fitur atau menu yang mirip Facebook, pelajar bisa nyaman membahas segala urusan sekolah dengan cara yang lebih nyaman.



sumber

Hardiknas : Potret Buram Pendidikan Nasional



Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula.

Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara � negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Pertama, paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler dan materialistik sehingga tidak menghasilkan manusia yang berkualitas utuh, lahir dan batin. Kedua, semakin mahalnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun. Ketiga, rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan untuk bersaing secara global.

Sistem pendidikan yang sekuler materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sebuah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga sekuler dan materialistik. Memang, dalam sistem sekuler materialistik itu, yang namanya pandangan, aturan, dan nilai � nilai Islam tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, terutama dalam pendidikan ini. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekuleristik lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama dan segala akibat-akibatnya yang menimpa bangsa dan negara ini.



Paradigma Pendidikan Nasional

Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003 tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi.

Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan.

Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja �buta agama� dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern.

Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern. Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini.



Biaya Pendidikan Mahal Selangit

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak � Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 � 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari � Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu.

Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya.

Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan.



Ancaman Komersialisasi

Orang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan. Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya.

Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah �luhur� yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non � SPP yang itemnya bertumpuk.



Intervensi Asing

Meningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru.

Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh �Barat� masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya.

Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi �diplomat� yang notabene pelanjut imperialisme baru.

Di Indonesia, jargon �pendidikan untuk semua� sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering �dibajak� oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme.





sumber

Justin Bieber: Indonesia, I See You. I Love U


ISTPenyanyi asal Kanada, Justin Bieber, akhirnya bersuara menyusul kontroversi yang ditimbulkannya setelah menyebut Indonesia sebagai negararandom.

Secara harfiah, random memiliki definisi "acak" dan oleh penutur Inggris digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu yang tidak memiliki signifikansi atau "tidak jelas".
 
Bieber mengeluarkan pernyataan itu saat peluncuran album barunya di London, Inggris, pekan lalu dan langsung mendapat reaksi keras di Indonesia, termasuk kecaman hingga aksi boikot lagu-lagu Bieber di radio.

Beberapa saat lalu, penyanyi berusia 18 tahun itu akhirnya menyikapi isu tersebut di akun Twitter-nya.

"one rumor i wont stand for is saying what me and my fans have isnt real. Indonesia I see you. i love u. I love ALL MY FANS. (gosip yang tidak bisa aku biarkan adalah bahwa apa yang aku dan para penggemarku miliki bukan hal yang sejati. Indonesia aku lihat kamu. aku cinta kamu. aku cinta SEMUA PENGGEMARKU)," tulis Bieber.

April tahun lalu, Justin Bieber sempat menggelar konser di Sentul, Bogor. Konsernya sendiri berjalan cukup sukses.

Dalam kesempatannya di Indonesia, ia merekam sebuah single berjudul  "Be Alright" untuk album barunya, tetapi ternyata proses rekaman itu tidak berjalan seperti yang diinginkannya.

"Saya berada di satu negara yang random," kata Bieber kepada Reggie Yates dari The Voice UK, seperti dilansir harian Mirror. Manajernya, Scott "Scooter" Braun, menyela dan mengatakan, "Indonesia."

"Saya merekamnya di sebuah studio," lanjut Bieber. "Tempatnya kecil. Mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan."

Sebuah radio anak muda di Medan, Sumatera Utara, Kiss 105 FM memboikot lagu-lagu Bieber.

Televisi setempat hari ini menyiarkan gambar sekelompok Belieber yang menghapus file lagu-lagu Bieber dari telepon seluler dan tidak lagi mengikutinya di Twitter.

Namun, bagi sebagian besar Belieber di Indonesia, klarifikasi sang idola cukup untuk menenangkan mereka.

Mereka mengucapkan terima kasih atas penjelasan itu dan meminta agar orang-orang berhenti menghujat Bieber.



sumber

Menkes Endang Sedyaningsih Tutup Usia


Setelah berjuang keras melawan penyakit kanker parunya yang sudah parah, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih akhirnya tutup usia di usia 57 tahun pada Rabu 2 Mei 2012 sekitar pukul 11.50 WIB.

Demikian penjelasan suami Menkes Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM, Rabu (2/5/2012).

Menkes yang sudah mengajukan pengunduran diri sejak 26 April 2012 ini mengalami penurunan kondisi yang terus menerus setelah masuk RSCM hampir 4 minggu lalu. Menkes dirawat di Ruang Kencana lantai 7 RSCM.

Puncaknya pada Selasa ini, Menkes sudah dalam kondisi kritis dan sempat hilang nadinya. Karena kondisi Menkes yang sempat kehilangan kesadaran itu seluruh keluarga berkumpul untuk melepas kepergian Menkes dengan tenang.

Menkes telah berjuang selama 1,5 tahun melawan sakit kanker parunya. Awalnya, penyakit kanker paru Menkes terdeteksi sejak Oktober 2010.

Sejak itu Menkes telah menjalani pengobatan baik di dalam negeri dan luar negeri selama kurang lebih satu setengah tahun.

Namun sudah hampir 4 minggu terakhir ini, Menkes terpaksa kembali dirawat di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) karena kondisi tubuhnya yang menurun drastis.

Kesimpulan hasil pemeriksaan menyeluruh yang dilakukan tim dokter RSCM menemukan Menkes memerlukan pengobatan berupa radioterapi atau radiasi secara serial. Selain radioterapi, dilakukan pula pemantauan kondisi darah dan metabolisme untuk meningkatkan stamina atau kondisi tubuh.

Namun setelah selesai pelaksanaan radioterapi dan radiasinya kondisi Menkes malah justru kian memburuk karena kanker parunya telah menyebar ke tubuhnya

Menkes yang kelahiran Jakarta, 1 Februari 1955 meninggalkan suaminya Dr. Reanny Mamahit, SpOG, MM (Direktur RSUD Tangerang) dan 3 orang anaknya yaitu Arinanda Wailan Mamahit, Awandha Raspati Mamahit dan Rayinda Raumanen Mamahit.



sumber

Indonesia Kekurangan Ahli Jantung!




Penyakit jantung koroner merupakan pembunuh nomor satu menggantikan posisi infeksi. Ironisnya, jumlah tenaga dokter jantung atau ahli jantung di Indonesia minim.

Hal itu diutarakan Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI Prof Dr Ganesja Harimurti, SpJP, dalam acara dalam acara 'Serah Terima Sertifikat Akreditasi PS Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskular FKUI / PJNHK & Peresmian Patung alm. dr. Sukaman, SpPD, SpJP, salah satu Perintis Kardiologi Indonesia', di RSJPD Harapan Kita, Senin (23/4).

Ganesja menjelaskan, selama 36 tahun, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI telah melahirkan 361 dokter spesialis jantung dan pembuluh darah (SpJP).

Padahal, di Indonesia baru mempunyai 555 dokter spesialis jantung. Angka ini masih sangat kurang memadai jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 240 juta jiwa.

�Idealnya, satu dokter jantung bisa menangani 260 ribu jiwa. Padahal penyakit jantung sekarang ini menjadi pembunuh utama, menggeser kematian akibat infeksi,� jelas Ganesja.

Sementara itu, Direktur Utama Pusat Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Hananto Andriantoro, Sp.JP menambahkan ada tiga komponen penting dalam mencetak dokter, yaitu kualitas kurikulum, kualitas staf pengajar, dan kualitas tempat pendidikannya.

�RS Jantung Harapan Kita menjadi pusat jantung nasional sekaligus sebagai rumah sakit pendidikan. Sebentar lagi juga akan diakreditasi Internasional. Fakultas Kedokteran yang mendapat akreditasi A akan menghasilkan dokter yang ahli, RS yang diakreditasi JCI akan lebih dipercaya,� tambah Hananto.

Menurutnya, RS yang mendapat akreditasi dari Joint Commission International (JCI) akan lebih dipercaya. Para penjamin dana masyarakat seperti asuransi membutuhkan jaminan dan merasa yakin kliennya mendapat pelayanan yang paling baik di rumah sakit.

�Jadi JCI menjadi jaminan kepercayaan. Mahasiswa kardiologi juga mendapat tempat yang baik untuk pendidikannya, Jadilah, rumah sakit ini, home sweet home bagi para kardiolog,� ungkapnya.

"Dan perkembangan kardiologi dan pembuluh darah di Indonesia menjadi tanggung jawab banyak komponen antara lain, rumah sakit, Departemen Kardiologo dan Kedokteran Vaskular, Perhimpunan Ahli Kardiologi Indonesia (Perki), dan Yayasan Jantung Indonesia," pungkasnya.



sumber

Pengakuan Kapten Koboy Palmerah




Video yang menayangkan seorang pria menaiki mobil berplat nomor TNI yang mengamuk, mengacung-acungkan pistol ke arah seorang pengendara sepeda motor, membuat publik heboh.

Aksinya menggenggam pistol membuat pria itu dijuluki 'koboy Palmerah' -- lokasi insiden terjadi. Markas Besar Angkatan Darat mengakui, pria dalam rekaman itu adalah anggotanya, Kapten A.

Namun, Mabes membantah Kapten A, perwira yang terlibat perselisihan dengan pengendara motor di Palmerah, Jakarta Barat, mengumbar tembakan saat peristiwa berlangsung.

Kepala Sub Dinas Penerangan Umum TNI Angkatan Darat, Kolonel Zaenal Mutaqin menjelaskan, Kapten A saat itu hanya membawa pistol mainan berupa airsoft gun untuk menjaga diri.

"Kami sangat menyayangkan kedua belah pihak tak dapat mengendalikan emosi. Sampai anggota kami juga mengambil pistol mainan, airsoft gun, dan hanya mengacung-acungkan ke udara, tidak ditembakkan, karena itu kan bukan senjata api," ujar Zaenal, saat ditemui di kantornya, Mabes AD, Jakarta Pusat, Selasa, 1 Mei 2012.

Menurut Zaenal, Kapten A juga menyampaikan kronologi pada saat kejadian berlangsung di Palmerah, Jakarta Barat, Senin, 30 April 2012. Selembar kertas yang merupakan pernyataan Kapten A dibacakan oleh Zaenal. Wartawan tak dibolehkan melihat isinya secara langsung.

Berikut pengakuan Kapten A:

Pada pukul 15.00 saat itu saya berniat akan menjemput orang tua saya di Bandara Soekarno Hatta. Saat melintas di Palmerah, situasi jalan raya sedikit tersendat. Pada saat mobil saya bergeser ke arah kiri, kaca kiri mobil saya diketuk. Pengendara itu berkata 'jangan mentang-mentang aparat seenaknya saja'. Saya kaget lalu turun dari mobil untuk menanyakan masalahnya. Saya berpikir motornya terserempet tapi ternyata tidak. Saya tinggalkan dia sambil dia mengancam akan melaporkan ke atasan saya. Saya bilang silakan saja.

Saya kembali ke mobil dan siap melanjutkan perjalanan menuju bandara karena khawatir, orang tua saya mengidap sakit jantung. Ketika akan menyalakan mesin mobil, pintu mobil saya ditendang dan kaca mobil diketok oleh pengendara motor itu. Saya turun dan sempat mengeluarkan dan mengacungkan air soft gun dan stik besi yang saya punya agar dia mengeluarkan SIM miliknya. Lalu Pomdam Jaya melintas dan saya dibawa.


Kira-kira seperti itulah surat pernyataan Kapten A. Sekali lagi pihak Mabes AD membantah jika Kapten A sempat melepaskan tembakan.

"Karena dia emosi, dia keluarkan pistol mainan itu, dia keluarkan airsoft gun untuk menjaga diri," ungkapnya.

Sementara itu, saat ini Kapten A masih diproses di Pomdam Jaya akibat perilakunya itu.





sumber